Tradisi Hari Raya Galungan Bali

Tradisi Hari Raya Galungan Bali – Bali memiliki banyak sekali tradisi yang masih sangat sakral untuk di lakukan. Salah satu tradisi Bali yang sangat terkenal adalah tradisi hari raya galungan. Berikut adalah ulasannya

1. Memasang Penjor
Hari Raya Galungan biasanya ditandai dengan adanya penjor atau janur kuning yang dipasang di sepanjang jalan di daerah Bali. Di Bali, ketika Hari Raya Galungan dan Kuningan dirayakan, kamu akan dengan mudah menemukan penjor di setiap sisi jalan dan di depan rumah penduduk setempat.
Penjor terbuat dari batang bambu yang dihiasi dengan daun kelapa, padi, dan kotak khusus untuk sesaji yang disebut canang. Sekilas, penjor terlihat seperti janur penanda di acara pernikahan, namun jika diperhatikan dengan seksama, penjor memiliki aksesoris berbeda.
Bagi masyarakat Hindu, penjor memiliki arti bahwa manusia hendaknya selalu melihat ke bawah dan menolong orang lain yang belum beruntung, sama seperti ujung penjor yang melengkung ke bawah.

Tradisi Hari Raya Galungan Bali

2. Tradisi Ngejot
Ngejot merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Bali dengan memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Kata “Ngejot” sendiri merupakan istilah dalam bahasa Bali yang memiliki arti “memberi.” Jenis pemberiannya bisa berupa makanan, jajanan, atau buah-buahan.
Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang Galungan sampai pada saat Galungan berlangsung. Tradisi Ngejot dilakukan bertujuan untuk semakin mempererat persaudaraan antar umat Hindu.

Baca Juga : Makna diBalik Tradisi Tari Kecak Bali

3. Perang Jempana
Setiap perayaan Galungan, umat Hindu di Bali juga melakukan perang Jempana. Dikenal juga sebagai Dewa Masraman, Perang Jempana telah ada sejak tahun 1500.
Perang Jempana biasanya dilakukan setiap 210 hari, tepat pada hari Saniscara Kliwon Kuningan. Saat melakukan tradisi Perang Jempana, masyarakat setempat akan mengusung tandu (jempana) yang berisi sesajen dan simbol Dewata.
Puncak dari tradisi ini adalah Ngambeng Jempana, yaitu atraksi saling dorong antarwarga yang membawa jempana sambil diiringi suara tabuhan gong baleganjur.
Para warga yang terlibat biasanya sudah berada dalam kondisi tidak sadar. Begitu Ngambeng Jempana berakhir, pemangku agama akan memercikkan air suci.
Kemudian, para dewa yang dilambangkan dengan uang kepeng dan benang tridatu dikeluarkan dari jempana, serta kembali ditempatkan ke dalam Pura.

4. Ngurek
Mirip dengan atraksi debus, tradisi Ngurek juga menggunakan senjata tajam untuk melukai diri ketika partisipan berada dalam kondisi kerasukan. Dilaksanakan hampir di setiap daerah di Bali, tradisi Ngurek yang juga dikenal sebagai Ngunying dipercaya sebagai manifestasi pengabdian pada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa).