Tradisi-Bali-Memakamkan-Jenazah-di-Bawah-Pohon-Ala-Trunyan

Tradisi Bali Memakamkan Jenazah di Bawah Pohon Ala Trunyan

fkossmpkotabali – Terletak di tepi Danau Batur, Kintamani, Bali bagian timur, terdapat Desa Adat Trunyan yang memiliki tradisi unik. Warganya merupakan Suku Bali Aga atau Bali Mula, yang masih memegang teguh kepercayaan leluhurnya.

Hal itu jadi tidak biasa, karena rasanya modernitas dari majunya industri pariwisata sudah menyentuh setiap sudut di Bali.

Bali Aga atau Bali Mula merupakan kelompok masyarakat yang pertama kali mendiami Pulau Bali. Saat ini jumlahnya tidak banyak. Selain di Desa Trunyan, mereka juga bisa ditemui di Desa Panglipuran dan Desa Tenganan.

Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh ialah menguburkan orang meninggal dengan cara “hanya” diletakkan di atas tanah. Lengkap dengan baju dan barang titipan keluarganya.

Pada umumnya, dalam kehidupan masyarakat Bali yang beragama Hindu, jenazah biasanya akan dikubur atau dibakar.

Warga Bali Aga di Desa Trunyan tidak melakukan hal itu, melainkan membiarkan jenazah tergeletak di permukaan tanah pemakaman, di bawah pohon khas di sana, Taru Menyan.

Tempat pemakaman bernama Sema Wayah itu berada di seberang desa. Wisatawan yang ingin mengunjunginya perlu menyeberangi Danau Batur menggunakan perahu selama sekitar 15 menit.

Di lokasi Sema Wayah hanya terdapat 11 “makam” yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk segitiga (Ancak Saji), dan berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas.

“Bila ada jenazah baru, jenazah yang sudah berbentuk tulang akan dipindahkan,” kata sang pemandu, Nyoman Sulam. Pohon Taru Menyan bertengger tak jauh dari tempat itu. Menurut penuturan warga sekitar, pohon itu telah tumbuh selama ribuan tahun.

Kata Taru berarti pohon, dan Menyan berarti harum, yang bila digabungan berarti Pohon Harum

Pohon ini menyebarkan wangi semerbak ke sekelilingnya, sehingga pengunjung tak mencium bau busuk dari jenazah yang tak dikubur.

Tidak hanya Pohon Taru Menyan yang menyambut di pemakaman, di sepanjang jalan masuk pemakaman juga terdapat sesajen bekas upacara pemakaman.

Baca Juga : Wisata Kuliner Di Seminyak Dan Club House Santorini

Aturan di Pemakaman Trunyan

Untuk memakamkan di Sema Wayah, warga Desa Trunyan memiliki aturan khusus. Hanya jenazah yang meninggal secara wajar dan telah menikah yang dapat dimakamkan di sana.

Sementara, untuk warga yang Ulah Pati dan Salah Pati, yaitu yang meninggal masih meninggalkan luka dan penyebab kematiannya tidak wajar seperti kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri, atau ada bagian tubuh yang tidak utuh, akan dimakamkan dengan cara dikubur di Sema Bantas.

Sama halnya bagi warga yang masih anak-anak serta yang telah dewasa atau berusia lanjut tapi belum menikah, akan dikuburkan di Sema Muda.

Perempuan desa dilarang untuk mengunjungi pemakaman-pemakaman itu, demi menghindari kesedihan yang mendalam saat ada kerabat atau keluarga yang meninggal.

“Menurut cerita leluhur, pada zaman dahulu ada beberapa perempuan ikut mengantar kerabatnya ke pemakaman. Namun, karena kesedihan yang mendalam, mereka sampai tak mau pulang,” tutur Nyoman.

“Sama seperti tradisi pemakaman pada umumnya, kita diajarkan untuk mengikhlaskan. Aturan itu diberlakukan agar kita lebih tabah,” tambahnya.

Disebutkan, bahwa aturan itu hanya berlaku bagi warga Desa Trunyan saja, sedangkan bagi wisatawan diperbolehkan. Sekalipun, mengikuti prosesi pemakamannya.

Cara Menuju Desa Trunyan

Dengan tradisi yang sangat unik, sayangnya Desa Trunyan terbilang cukup sulit diakses. Menempuh jalan menuju kawasan Kintamani saja dibutuhkan waktu lebih dari dua jam perjalanan dari pusat kota Bali.

Selanjutnya, diperlukan waktu tempuh sekitar 20 menit untuk tiba di tepi Danau Batur.

Saat sudah berada di sana dan datang menggunakan kendaraan pribadi, sejumlah warga akan menawarkan jasa memandu dengan harga yang “variatif”, mulai dari Rp350 ribu per orang untuk wisatawan lokal dan Rp500 ribu per orang untuk wisatawan mancanegara.

Katanya, harga tersebut sudah termasuk biaya perahu, tiket masuk makam, asuransi perjalanan, jasa pemandu serta donasi untuk pembangunan desa.

Dari tepi Danau Batur, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau bersepeda sekitar 15 menit sampai pintu masuk Desa Trunyan.

Meski jalanan setapak yang ditempuh cukup curam, namun keindahan Danau Batur dan Gunung Batur membayar segala kelelahan fisik yang terasa.

Selain pemandangan bak lukisan itu, beberapa warga yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun akan terlihat sepanjang perjalanan.

Sampai di desa, pemandu akan mengajak ke pelabuhan kecil untuk naik perahu menuju Sema Wayah.

Banyak warga lanjut usia di Desa Trunyan. Mereka yang tidak bekerja biasanya akan mengemis kepada wisatawan.

Bukan cuma di pelabuhan, mereka bahkan mendayung sampai perahu untuk mendekati perahu wisatawan demi mengemis.

Mengenal Tradisi Omed Omedan Dari Bali

Mengenal Tradisi Omed Omedan Dari Bali

Fkossmpkotabali.web.id – Omed-omedan, tradisi yang sangat unik yang digelar sehari setelah pelaksanaan catur brata penyepian, sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Tradisi ini digelar oleh anak muda Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar.

Meski dilakukan oleh pemuda dan pemudi setempat yang tampak berpelukan di tengah siraman air, tradisi ini tidak semerta-merta dijadikan ajang ciuman massal. Bahkan teknisnya, omed omedan diawali sebuah upacara dan pakem-pakem dalam pelaksanaannya.

Panglingsri Puri Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, yang juga disebut maestro tradisi omed-omedan, I Gusti Ngurah Oka Putra, mengatakan tradisi di desanya itu bagi masyarakat awam memang seperti ciuman dan pelukan massal. Namun, ia meluruskan persepsi itu semua karena dalam kenyataannya tidak seperti yang dilihat pada media sosial.

“Namanya juga omed-omedan berarti saling tarik-menarik. Di sana memang adanya sebuah pertemuan antara pipi pelaku dan tidak ada sama sekali yang bibir ketemu bibir karena semua itu sudah ada pakemnya,” ucapnya kepada Bali Express

Sesuai pakem yang ada, peserta omed-omedan dilakukan oleh anggota pemuda dan pemudi. Sedangkan tangan pemuda harus berada di lengan dan pinggul pemudi, sehingga pipi sama pipi dikatakan akan bertemu, sedangkan bertemunya bibir tidak akan terjadi.

Pada saat itu, ia juga menjelaskan anggota Sekaa Truna Truni (STT) dibagi menjadi beberapa kelompok tanpa ada batasan untuk mengangkat salah satu pemuda dan pemudinya yang akan melakukan tarik-menarik sambil disiram air.

Omed omedan itu memang dilaksanakan untuk memperingati pergantian tahun baru caka yang diperkirakan sudah mulai dari abad ke-18 Masehi.

“Ini sama kayak kita bersilahturahmi, namun dilakukan dengan bersenang-senang dan penuh kegembiraan. Sejarahnya juga sangat panjang, sehingga sampai saat ini masih tetap dilakukan setiap tahun. Kami juga tidak menyangka akan menjadi tradisi yang unik bahkan dikenal sampai ke luar negeri,” terang Ngurah Bima, panggilan akrabnya.

Baca Juga : Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

Tradisi Omed-omedan Sempat Ditiadakan

Dalam kesempatan itu pun Ngurah Bima menjelaskan sejarah singkat adanya tradisi omed-omedan tersebut yang sempat ditiadakan. Ia menerangkan panglingsirnya sendiri yang ada di puri setempat, tepat purinya yang berada di depan balai banjar mengalami sakit keras dan tidak diketahui apa penyebabnya.

Karena tidak ingin ada keramaian saat itu, maka disarankan jangan melakukan tradisi tersebut dalam memperingati tahun baru caka. Meski demikian, karena datangnya masyarakat dan penonton yang membeludak, maka tetaplah dilakukan oleh warga dan menentang perintah dari panglingsir puri saat itu.

“Karena raja tetap mendengar keramaian, mintalah ia keluar dari puri dengan digotong oleh pendampingnya, yang akan memarahi masyarakat karena tetap membuat keramaian di bencingah (depan puri). Sampainya di depan puri seketikalah panglingsir saya menjadi sembuh kembali secara misterius, maka ia tidak jadi marah-malah malah menyuruh melanjutkan kembali tradisi itu,” terang pria 74 tahun tersebut.

Diwawancarai pada tempat yang sama, ketua Sekaa Teruna Dharma Kerti, I Made Widya Sura Putra, mengatakan tradisi omed-omedan memang turun-temurun dilakukan oleh kalangan muda. Bahkan, ia mejelaskan sebelum tradisi berlangsung, diadakan sembahyang bersama terlebih dahulu dan ada arahan dari tokoh masyarakat setempat.

“Tradisi ini tidak semata sebagai ajang pelukan atau ciuman massal seperti informasi yang ada. Karena omed-omedan itu kan berarti saling tarik-menarik, bahkan itu ada pakemnya yang jelas. Mereka yang melakukan juga anggota STT yang diangkat oleh temannya secara spontanitas tanpa mengurangi tradisi, adat, budaya, dan pakem yang ada,” jelas pemuda 23 tahun tersebut.

Dalam pelaksanaannya juga, Putra mengungkapkan tradisi itu hanya boleh dilakukan oleh anggotanya yang baru masuk STT sampai yang belum kawin. Sedangkan, bagi yang mengalami kecuntakan (kotor/datang bulan) tidak diperkenankan ikut melakukan tradisi tersebut, karena prosesi awalnya dilakukan pada pura banjar setempat.

“Kita mulai dari pukul 16.00 sampai selesai, sedangkan yang melakukan omed-omedan maksimal itu dilakukan oleh dua pasang saja dari 350 anggota STT, dengan durasi tidak menentu,” imbuh mahasiswa Jurusan Manajemen Pascasarjana Undiknas tersebut.