Tradisi Gebug Ende Karangasem Warga Desa Seraya

Tradisi Gebug Ende Karangasem Warga Desa Seraya

Fkossmpkotabali.web.id – Tradisi Gebug Ende Karangasem, ialah tradisi turun temurun yang sekarang masih dilakukan. Gebug Ende dapat Anda saksikan di Pulau Bali. Gebug Ende merupakan tradisi atau upacara adat untuk memanggil hujan.

Apabila anda sedang mengunjungi kawasan Bali yang satu ini yaitu di Karangasem tepatnya di Desa Seraya, maka di desa ini terdapat sebuah tradisi yang dikenal dengan Gebug Ende.

Tradisi Gebug Ende Karangasem atau dikenal juga Gebug Ende Seraya ini merupakan perang rotan. Sebuah warisan budaya leluhur yang bertahan sampai saat ini, dimana tradisi ini dilakoni untuk memohon turun hujan pada musim kemarau.

Gebug Ende biasanya digelar pada sasih kapat (kalender Hindu Bali) atau pada bulan Oktober – November.

Sejarah Tradisi Gebug Ende Karangasem

Sejarah dari Gebug Ende Seraya ini adalah, pada jaman kerajaan Karangasem, warga Desa Seraya ditugaskan sebagai prajurit untuk menyerang kerajaan Seleparang yang ada di pulau Lombok.

Karena pada jaman itu warga Seraya dikenal kuat dan tangguh serta memiliki ilmu kebal, maka mereka dijadikan garda depan untuk menyerang kerajaan Seleparang, sehingga kerajaan Seleparang dapat dikuasai kerajaan Karangasem.

Prajurit Desa Seraya yang semangat ksatrianya masih berkobar meskipun telah menang, akhirnya mereka bertarung dengan teman mereka sendiri dengan menggunakan alat perang Sportsbook seadanya. Seiring dengan kejadian tersebut munculah permainan Gebug Ende yang ada sampai sekarang.

Baca Juga : Mengenal Tradisi Mekotek Desa Munggu

Cara Menuju Lokasi Desa Seraya, Tempat Pelaksanaan Tradisi Gebug Ende Karangasem

Desa Seraya yang terletak sekitar 10 km dari pusat kota Amlapura, perjalanan dari Denpasar kurang lebih 2,5 jam menggunakan mobil, setelah melewati objek wisata Taman Ujung Karangasem. Desa Seraya sendiri memang terletak di dataran tinggi, dimana kondisi geografisnya tanahnya cenderung tandus dan kering pada saat musim kemarau, sehingga kondisi seperti ini kurang menguntungkan bagi para petani juga.

Ritual Gebug Ende ini diawali dengan persembahyangan dengan berbagai banten atau sesaji, yang kemudian akan dilanjutkan dengan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki. Kedua laki-laki tersebut akan saling serang dengan membawa sebatang rotan dengan panjang 1,5 hingga 2 meter yang akan digunakan untuk memukul lawan dan perisai rotan bundar untuk menangkis serangan dari lawan.

Nama Gebug Ende sendiri memiliki arti yaitu Gebug yang artinya menggebug atau memukul lawan, Ende yang berarti perisai atau tameng.

Aturan Main Tradisi Gebug Ende Karangasem

Para peserta yang hendak bertanding berpakaian adat Bali madya dilengkapi dengan udeng atau ikat kepala berwana merah sebagai lambang jiwa pemberani. Kemudian mereka hanya bertelanjang dada dan memakai sarung.

Selama proses Gebug Ende akan diiringi dengan suara gamelan sehingga menambah ketegangan dan memacu adrenalin agar terus bertarung. Pertarungan akan berlangsung selama 10 menit dengan dipimpin oleh wasit yang disebut Saye.

Ritual akan menjadi lebih baik apabila saat pertandingan ada yang terluka hingga berdarah, karena dengan hal tersebut diharapkan hujan akan cepat turun. Maka dari itu para peserta Gebug Ende ini adalah harus yang sudah ahli.

Anda dapat berkunjung di Desa Seraya, Karangasem Bali tepat saat-saat musim kemarau. Mungkin saja anda beruntug dan dapat menyaksikan Gebug Ende Seraya ini.

Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

Fkossmpkotabali.web.id – Banyak tradisi unik dan menarik yang bisa disaksikan selama berada di Pulau Dewata Bali. Tradisi Perang Pandan Mekare-kare merupakan salah satunya. Tradisi ini merupakan sebuah budaya leluhur yang berusaha dijaga secara turun temurun oleh masyarakat Bali yang tinggal di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. .

Mekare-kare atau yang biasa disebut Mageret Pandan juga dikenal dengan istilah Perang Pandan Mekare kare adalah tradisi yang berlaku sejak turun temurun di Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Jika Anda sedang berkunjung ke Desa Adat Tenganan Pegringsingan dan menyaksikan Mekare-kare tersebut sedang dilangsungkan, maka akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga dan tak terlupakan bagi Anda.

Tradisi Perang Pandan Mekare-kare Bagian dari Upacara Keagamaan

Tradisi ini merupakan rangkaian upacara keagamaan yang dilakukan ketika upacara Sasih Sembah digelar. Upacara Sasih Judi Bola Sembah merupakan upacara terbesar yang diselenggarakan hanya sekali dalam setahun. Sedangkan Mekare-kare dihelat selama 2 hari mulai pukul 2 sore di halaman Balai Desa Tenganan.

Kaum pria menggunakan pakaian adat madya terdiri dari sarung, selendang, serta ikat kepala tanpa memakai baju atau hanya bertelanjang dada. Sedangkan para perempuan memakai pakaian khas Tenganan yang berupa kain tenun Pegringsingan.

Seperti namanya Perang Pandan, maka senjata yang digunakan adalah pandan berduri yang diikat. Pandan ini sebagai simbol sebuah gada yang dilengkapi dengan sebuah perisai yang terbuat dari rotan yang dipakai untuk tameng.

Baca Juga : Desa Mistis di Bali yang Terkenal dengan Pemakaman Uniknya

Perang Pandan Mekar-kare Diikuti oleh Pria dengan Tanpa Rasa Dendam

Perang Pandan Mekare-kare hanya boleh diikuti oleh kaum pria yang mulai menginjak usia dewasa. Sebelum acara puncaknya dimulai, seluruh peserta berkeliling desa untuk memohon keselamatan.

Saat perang berlangsung, peserta berdiri berhadap-hadapan satu lawan satu. Setiap peserta membawa seikat daun pandan di tangan kanan dan perisai pada tangan kiri serta seorang wasit berada ditengah-tengah kedua peserta.

Ketika aba-aba dimulai, kedua peserta dengan serta merta saling serang dengan saling merangkul sambil memukulkan pandan di punggung lawan. Sambil dipukulkan, pandan tersebut juga digosokkan/digeretkan oleh karenanya disebut Upacara Mageret Pandan.

Tak terbayang bagaimana perihnya duri-duri pandan itu menancap dan melukai punggung-punggung peserta. Namun di sinilah letak adu nyali setiap peserta diuji. Mekare-kare ini hanya berlangsung selama satu menit diiringi dengan musik gamelan yang memacu semangat.

Semua peserta bergantian berperang dan prosesi ini berlangsung sekitar 3 jam. Selesai prosesi, luka di punggung peserta diobati dengan obat-obatan tradisional.

Setelah selesai perang, tak ada dendam sekalipun dalam hati tiap peserta karena Mekare-kare adalah tradisi untuk upacara persembahan yang harus dilakukan dengan tulus ikhlas.

Warga Desa Tenganan adalah penganut agama Hindu seperti kebanyakan masyarakat Bali pada umumnya. Namun yang menjadi dewa tertinggi mereka adalah Dewa Indra berbeda dengan warga lainnya yakni dewa Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Siwa sebagai dewa tertinggi.

Oleh karena itu, Perang Pandan Mekare-kare ini dihelat sebagai penghormatan kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang selain untuk menghormati para leluhur. Biasanya digelar pada bulan Juni bertepatan dengan upacara Ngusaba Kapat