Tradisi Hari Raya Galungan Bali

Tradisi Hari Raya Galungan Bali – Bali memiliki banyak sekali tradisi yang masih sangat sakral untuk di lakukan. Salah satu tradisi Bali yang sangat terkenal adalah tradisi hari raya galungan. Berikut adalah ulasannya

1. Memasang Penjor
Hari Raya Galungan biasanya ditandai dengan adanya penjor atau janur kuning yang dipasang di sepanjang jalan di daerah Bali. Di Bali, ketika Hari Raya Galungan dan Kuningan dirayakan, kamu akan dengan mudah menemukan penjor di setiap sisi jalan dan di depan rumah penduduk setempat.
Penjor terbuat dari batang bambu yang dihiasi dengan daun kelapa, padi, dan kotak khusus untuk sesaji yang disebut canang. Sekilas, penjor terlihat seperti janur penanda di acara pernikahan, namun jika diperhatikan dengan seksama, penjor memiliki aksesoris berbeda.
Bagi masyarakat Hindu, penjor memiliki arti bahwa manusia hendaknya selalu melihat ke bawah dan menolong orang lain yang belum beruntung, sama seperti ujung penjor yang melengkung ke bawah.

Tradisi Hari Raya Galungan Bali

2. Tradisi Ngejot
Ngejot merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Bali dengan memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Kata “Ngejot” sendiri merupakan istilah dalam bahasa Bali yang memiliki arti “memberi.” Jenis pemberiannya bisa berupa makanan, jajanan, atau buah-buahan.
Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang Galungan sampai pada saat Galungan berlangsung. Tradisi Ngejot dilakukan bertujuan untuk semakin mempererat persaudaraan antar umat Hindu.

Baca Juga : Makna diBalik Tradisi Tari Kecak Bali

3. Perang Jempana
Setiap perayaan Galungan, umat Hindu di Bali juga melakukan perang Jempana. Dikenal juga sebagai Dewa Masraman, Perang Jempana telah ada sejak tahun 1500.
Perang Jempana biasanya dilakukan setiap 210 hari, tepat pada hari Saniscara Kliwon Kuningan. Saat melakukan tradisi Perang Jempana, masyarakat setempat akan mengusung tandu (jempana) yang berisi sesajen dan simbol Dewata.
Puncak dari tradisi ini adalah Ngambeng Jempana, yaitu atraksi saling dorong antarwarga yang membawa jempana sambil diiringi suara tabuhan gong baleganjur.
Para warga yang terlibat biasanya sudah berada dalam kondisi tidak sadar. Begitu Ngambeng Jempana berakhir, pemangku agama akan memercikkan air suci.
Kemudian, para dewa yang dilambangkan dengan uang kepeng dan benang tridatu dikeluarkan dari jempana, serta kembali ditempatkan ke dalam Pura.

4. Ngurek
Mirip dengan atraksi debus, tradisi Ngurek juga menggunakan senjata tajam untuk melukai diri ketika partisipan berada dalam kondisi kerasukan. Dilaksanakan hampir di setiap daerah di Bali, tradisi Ngurek yang juga dikenal sebagai Ngunying dipercaya sebagai manifestasi pengabdian pada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa).

Makna diBalik Tradisi Tari Kecak Bali

Makna diBalik Tradisi Tari Kecak Bali – Bali memiliki banyak sekali tradisi dan adat yang masih tersimpan didalamnya. Salah satu yang menjadi sebuah tradisinya adalah tarian adat. Tari kecak merupakan slaah satu tarian adat yang memiliki makna tersendiri di dalamnya

1. Diperkenalkan warga Bali saat 88 tahun lalu, Tari Kecak begitu mendunia

Tari Kecak diperkenalkan oleh Wayan Limbak pada tahun 1930. Wayan Limbak juga satu-satunya pencipta tarian ini. Ia dibantu oleh rekannya seorang pelukis asal Jerman yaitu Walter Spies, untuk mempopulerkan Tari Kecak ke mancanegara.

Makna diBalik Tradisi Tari Kecak Bali

2. Ada nilai kesakralan ritual dalam setiap gerakannya

Meskipun tarian ini dipertunjukkan di depan wisatawan, namun sejatinya Tari Kecak sering digunakan untuk merayakan upacara keagamaan lho. Kalau kamu perhatikan, gerakan di Tari Kecak ini sebenarnya tidak bisa sembarangan!

Beberapa bagian pertunjukan memperlihatkan ritual pemanggilan dewa dewi ataupun roh leluhur yang disucikan. Lalu, dewa dewi atau roh leluhur tersebut akan datang memberikan pesan dan nasihat melalui sang penari sebagai mediatornya.

3. Unik dan punya nilai seni tinggi

Tari kecak tidak diiringi oleh alat musik tradisional, tapi hanya menggunakan suara “cak cak cak” dari 70 penari laki-laki yang duduk melingkar. Sementara itu, di tengah lingkaran terdapat penari-penari lainnya yang memainkan pertunjukan Ramayana.

Meskipun tidak diiringi oleh instrumen musik, Tari Kecak tetap memperlihatkan keselarasan antara gerakan penari dengan iringan suara yang mengiringinya. Hal inilah yang menjadikan Tari Kecak sangat unik.

4. Terdapat religiusitas yang dalam

Tari Kecak menampilkan kisah Rama yang sedang berusaha menyelamatkan istrinya, Shinta dari Rahwana. Dalam beberapa sesi ditunjukkan bahwa Rama selalu meminta perlindungan dan bantuan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai seorang ksatria, Rama bukan manusia yang sombong dan angkuh. Namun sebaliknya, ia selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkahnya.

Baca Juga: Tradisi Prosesi Pernikahan Adat di Bali

5. Sebagai pembelajaran moral bagi manusia

Dari kisah Ramayanan yang ditampilkan bersama tari kecak tersebut, ada beberapa pelajaran yang bisa kamu ambil. Pertama, dilihat dari setianya seorang Shinta sebagai seorang istri dari Rama. Kedua, sosok Rama yang sabar dan rela berkorban demi orang lain yang membutuhkan pertolongan. Ketiga, kebaikan Anoman yang baik hati meskipun wujudnya hanya seekor kera. Pelajaran yang terakhir adalah kamu diajarkan supaya tidak memiliki sifat serakah seperti seorang Rahwana.

1

Tradisi Prosesi Pernikahan Adat di Bali

Tradisi Prosesi Pernikahan Adat di Bali – Di setiap wilayah pasti mempunyai adat. Termasuk dalam sebuah pernikahan di suatu wilayah bawaan. Salah satunya adalah Bali, Bali memiliki suatu adat dan tradisi yang masih sangat kental di jalani oleh orang sana. Pernikahan di Bali memiliki beberapa tradisi dan adat yang harus di lakukan. Berikut adlaha tradisi prosesi pernikahan yang berlangsung di Bali

Prosesi Pernikahan Adat Bali

1. Menentukan Hari Baik
Prosesi pernikahan adat Bali dimulai dengan penentuan hari baik yang dilakukan setelah calon mempelai pria meminang calon mempelai wanita yang dalam bahasa Bali disebut memadik atau ngindih. Masyarakat Bali masih sangat percaya akan hari baik untuk menggelar pernikahan. Pada hari baik yang telah dipilih tersebut lah nantinya calon mempelai wanita akan dijemput lalu dibawa ke rumah calon mempelai pria.

2. Upacara Ngekeb
Jika kamu sudah sering mendengar prosesi siraman pada pernikahan adat Jawa, Upacara Ngekeb merupakan prosesi serupa khas adat Bali. Namun terletak perbedaan diantara dua prosesi adat ini, kalau pada adat Bali, mempelai wanita akan terlebih dahulu dilulur dengan ramuan yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga dan beras yang telah ditumbuk halus, serta air merang untuk keramas.

Pada saat menjalankan ritual Ngekeb, calon mempelai wanita tidak diperbolehkan keluar dari kamar sejak sore hari sampai rombongan keluarga calon mempelai pria menjemputnya keesokan harinya. Selain persiapan secara lahiriah, mempelai juga memperbanyak doa kepada Sang Hyang Widhi untuk dianugerahkan kebahagiaan dan anugerah-Nya.

3. Penjemputan Calon Mempelai Wanita
Kalau kebanyakan pernikahan adat melakukan sebagian besar prosesinya di kediaman calon mempelai wanita, berbeda dengan adat Bali. Pernikahan adat Bali memiliki prosesi menjemput calon mempelai wanita untuk melaksanakan rangkaian prosesi di rumah calon mempelai pria.

Baca Juga :10 Hotel Bintang 5 Di Bali Yang Terkenal

Sebelum meninggalkan rumah, calon mempelai wanita dibalut kain kuning tipis dari atas kepala sampai ujung kaki. Kain kuning ini melambangkan bahwa calon mempelai wanita menguburkan kehidupannya sebagai wanita lajang dan memasuki kehidupan baru berumah tangga.

4. Upacara Mungkah Lawang (Buka Pintu)
Prosesi dilanjutkan dengan acara mengetuk pintu sebanyak tiga kali oleh seorang utusan, bukan oleh calon mempelai pria. Kedatangan mempelai ini akan diiringi tembang yang dinyanyikan oleh seorang malat atau utusan mempelai pria. Syairnya berisikan kehadiran mempelai pria ingin menjemput mempelai wanitanya.

Lalu malat dari mempelai wanita akan membalas dengan tembang bersyairkan sang mempelai wanita siap dijemput. Setelah mendapat persetujuan, mempelai pria pun membuka pintu dan menggendong mempelai wanita menuju tandu untuk dibawa ke rumah keluarga pria tanpa didampingi orang tua.

5. Upacara Mesegehagung
Prosesi pernikahan adat Bali selanjutnya adalah upacara Mesegehagung yang merupakan ritual penyambutan mempelai wanita setibanya di kediaman mempelai pria. Kedua mempelai diturunkan dari tandu dan bersiap melangsungkan upacara Mesegehagung. Lalu mempelai wanita dan ibu dari mempelai pria pun bersama menuju kamar pengantin.

Di dalam kamar, ibu dari mempelai pria membuka kain kuning yang dikenakan mempelai wanita lalu menukarnya dengan uang kepeng satakan (mata uang pada masa lampau) senilai dua ratus kepeng.

6. Upacara Mekala-kalaan (Madengen-dengen)
Berikutnya acara dilanjutkan dengan ritual mekala-kalaan atau madengen-dengen. Tujuan dilakukannya upacara ini ialah menyucikan kedua mempelai dari hal negatif. Prosesi ini akan dimulai tepat saat genta berbunyi dan dipimpin oleh seorang pemimpin agama atau pemangku adat, tergantung dari adat dan budaya masing-masing daerah.

Beberapa-Tradisi-Unik-yang-Hanya-Ada-Di-Bali

Beberapa Tradisi Unik yang Hanya Ada Di Bali

fkossmpkotabali – Berkunjung ke Bali menjadi impian semua orang. Selain kekayaan alam, budaya, dan kesenian, Bali juga dikenal dunia karena destinasi wisatanya. Berbagai penghargaan dunia telah diperoleh, mulai dari penghargaan “Best Island”pada tahun 2010, penghargaan “World’s Best Island” oleh BBC tahun 2011 sampai dengan berbagai predikat terbaik, terfavorit, dan terindah di berbagai portal travel internasional.

Nama Bali berasal dari kata “Walidwipa” yang artinya Pulau Bali, pertama kali digunakan pada tahun 914 dan ditemukan di berbagai prasasti yang ada di Bali, salah satunya Prasasti Sri Kesari Warmadewa. Luas wilayah Bali membentang dari ujung barat hingga timur sejauh 153 kilometer, sedangkan dari ujung utara ke selatan sepanjang sejauh 112 kilometer. Meski wilayahnya tidak begitu luas, Bali dihuni sebanyak 4,22 juta penduduk berdasarkan data tahun 2012 dan mayoritas agama yang dianut adalah Hindu.

Bali menjadi pusat destinasi wisata berawal dari kedatangan antropolog Margaret Mead-Gregory Bateson, seniman Miguel Covarrubias, Walter Spies, dan musikus Colin McPhee yang kemudian mempublikasikan karya-karyanya yang menggambarkan tentang Bali pada tahun 1930. Sejak saat itulah, wisatawan internasional selalu membanji Pulau Bali hingga sekarang.

Meskipun Pulau Bali masih termasuk wilayah Indonesia, tetapi Bali memiliki keunikan tersendiri dari yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Penasaran dengan keunikan Pulau Bali? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Tradisi pemakaman di Pulau Bali

Tradisi-Pemakaman-Di-Bali

Bali dikenal dengan kepercayaan, tradisi, dan kebudayaannya. Nah, salah satu keunikan yang ada di Bali terletak di tradisi pemakaman jenazahnta. Ada tiga macam pemakaman yang dilakukan oleh masyarakat Bali, yaitu mulai dari mengubur, membakar, dan meletakkan mayat di atas tanah.

Umat Hindu pada umumnya melakukan prosesi pemakaman dengan cara ngaben atau membakar mayat, kemudian abu dari hasil pembakaran di hanyutkan ke laut. Tetapi, berbeda dengan masyarakat Hindu pada umumnya, warga Desa Trunyan Bali memiliki tradisi tersendiri dalam pemakamannya, yaitu hanya meletakkan mayat begitu saja di atas tanah yang dikelilingi oleh pohon Taru Menyan. Konon katanya, pohon menyan mampu menyerap bau dari mayat itu, sehingga mayat-mayat di sana tidak menimbulkan bau apapun. Kamu pernah melihatnya?

2. Peringatan Hari Nyepi, Bali Sepi

Peringatan-Hari-Nyepi

Jika kamu ingin menyaksikan perayaan Hari nNyepi yang sesungguhnya, berkunjunglah ke Pulau Bali. Di sana kamu akan merasakan suasana yang tak biasa, yaitu suasana sepi, hening, dan tak ada aktivitas yang terjadi saat perayaan Hari Nyepi. Umat Hindu yang dominan di Pulau Bali dilarang bekerja, pantang bepergian, dan dilarang menyalakan lampu atau sumber pencahayaan lainnya selama satu hari penuh. Tidak hanya umat Hindu, tradisi ini juga berlaku untuk semua orang yang ada di Bali, termasuk para turis yang sudah diberitahukan sebelumnya agar tidak melakukan aktivitas apapun dan disarankan untuk berdiam diri di tempat mereka tinggal.

Baca Juga : Tradisi Bali Memakamkan Jenazah di Bawah Pohon Ala Trunyan

3. Tradisi Omed-omedan

3. Tradisi Omed-omedan

Sehari setelah perayaan Nyepi, warga Banja Kaja Desa Sesetan, Denpasar memiliki tradisi yang unik yang dikenal dengan sebutan Omed-omedan atau dalam Bahasa Indonesia berarti ciuman massal. Pasangan muda-mudi setempat bergiliran untuk maju dan berciuman, kemudian tetua desa mengguyurnya dengan air. Hal ini dipercaya warga Banja Kaja untuk menghalangi desa mereka dari serangan wabah penyakit. Bahkan, dalam prosesi itu warga lain berbondong-bondong menarik dan mendorong pasangan tersebut. Wah, unik juga, ya!

4. Upacara adat keagamaan tiap hari

Upacara-Adat-KEagamaan

Hampir tiap hari jika berkunjung ke Pulau Bali kamu akan menyaksikan wanita Bali membawa sesajen di atas kepalanya, dan hampir setiap saat terdengar kidung-kidung suci di setiap pura. Itulah salah satu alasan mengapa Bali dijuluki sebagai Pulau Dewata. Tak hanya itu, jika kamu berkunjung ke Bali dan menikmati destinasi wisata dengan berjalan kaki, maka kamu akan melihat canang (sesajen) menghiasi depan rumah warga Bali, hal ini merupakan salah satu ritual suci yang warga Bali lakukan setiap harinya.

Selain itu, jangan heran juga ketika melihat bambu yang menjulang tinggi dan melengkung yang penuh dengan hiasan terpasang di sebuah bangunan. Itu adalah salah satu tradisi yang dilakukan warga Bali pada hari raya Galungan atau disebut dengan Penjor. Tradisi ini memiliki makna ungkapan terima kasih karena masih diberikan kesejahteraan oleh sang pencipta. Bahan yang digunakan pun adalah dari hasil pertanian.

Tradisi-Bali-Memakamkan-Jenazah-di-Bawah-Pohon-Ala-Trunyan

Tradisi Bali Memakamkan Jenazah di Bawah Pohon Ala Trunyan

fkossmpkotabali – Terletak di tepi Danau Batur, Kintamani, Bali bagian timur, terdapat Desa Adat Trunyan yang memiliki tradisi unik. Warganya merupakan Suku Bali Aga atau Bali Mula, yang masih memegang teguh kepercayaan leluhurnya.

Hal itu jadi tidak biasa, karena rasanya modernitas dari majunya industri pariwisata sudah menyentuh setiap sudut di Bali.

Bali Aga atau Bali Mula merupakan kelompok masyarakat yang pertama kali mendiami Pulau Bali. Saat ini jumlahnya tidak banyak. Selain di Desa Trunyan, mereka juga bisa ditemui di Desa Panglipuran dan Desa Tenganan.

Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh ialah menguburkan orang meninggal dengan cara “hanya” diletakkan di atas tanah. Lengkap dengan baju dan barang titipan keluarganya.

Pada umumnya, dalam kehidupan masyarakat Bali yang beragama Hindu, jenazah biasanya akan dikubur atau dibakar.

Warga Bali Aga di Desa Trunyan tidak melakukan hal itu, melainkan membiarkan jenazah tergeletak di permukaan tanah pemakaman, di bawah pohon khas di sana, Taru Menyan.

Tempat pemakaman bernama Sema Wayah itu berada di seberang desa. Wisatawan yang ingin mengunjunginya perlu menyeberangi Danau Batur menggunakan perahu selama sekitar 15 menit.

Di lokasi Sema Wayah hanya terdapat 11 “makam” yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk segitiga (Ancak Saji), dan berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas.

“Bila ada jenazah baru, jenazah yang sudah berbentuk tulang akan dipindahkan,” kata sang pemandu, Nyoman Sulam. Pohon Taru Menyan bertengger tak jauh dari tempat itu. Menurut penuturan warga sekitar, pohon itu telah tumbuh selama ribuan tahun.

Kata Taru berarti pohon, dan Menyan berarti harum, yang bila digabungan berarti Pohon Harum

Pohon ini menyebarkan wangi semerbak ke sekelilingnya, sehingga pengunjung tak mencium bau busuk dari jenazah yang tak dikubur.

Tidak hanya Pohon Taru Menyan yang menyambut di pemakaman, di sepanjang jalan masuk pemakaman juga terdapat sesajen bekas upacara pemakaman.

Baca Juga : Wisata Kuliner Di Seminyak Dan Club House Santorini

Aturan di Pemakaman Trunyan

Untuk memakamkan di Sema Wayah, warga Desa Trunyan memiliki aturan khusus. Hanya jenazah yang meninggal secara wajar dan telah menikah yang dapat dimakamkan di sana.

Sementara, untuk warga yang Ulah Pati dan Salah Pati, yaitu yang meninggal masih meninggalkan luka dan penyebab kematiannya tidak wajar seperti kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri, atau ada bagian tubuh yang tidak utuh, akan dimakamkan dengan cara dikubur di Sema Bantas.

Sama halnya bagi warga yang masih anak-anak serta yang telah dewasa atau berusia lanjut tapi belum menikah, akan dikuburkan di Sema Muda.

Perempuan desa dilarang untuk mengunjungi pemakaman-pemakaman itu, demi menghindari kesedihan yang mendalam saat ada kerabat atau keluarga yang meninggal.

“Menurut cerita leluhur, pada zaman dahulu ada beberapa perempuan ikut mengantar kerabatnya ke pemakaman. Namun, karena kesedihan yang mendalam, mereka sampai tak mau pulang,” tutur Nyoman.

“Sama seperti tradisi pemakaman pada umumnya, kita diajarkan untuk mengikhlaskan. Aturan itu diberlakukan agar kita lebih tabah,” tambahnya.

Disebutkan, bahwa aturan itu hanya berlaku bagi warga Desa Trunyan saja, sedangkan bagi wisatawan diperbolehkan. Sekalipun, mengikuti prosesi pemakamannya.

Cara Menuju Desa Trunyan

Dengan tradisi yang sangat unik, sayangnya Desa Trunyan terbilang cukup sulit diakses. Menempuh jalan menuju kawasan Kintamani saja dibutuhkan waktu lebih dari dua jam perjalanan dari pusat kota Bali.

Selanjutnya, diperlukan waktu tempuh sekitar 20 menit untuk tiba di tepi Danau Batur.

Saat sudah berada di sana dan datang menggunakan kendaraan pribadi, sejumlah warga akan menawarkan jasa memandu dengan harga yang “variatif”, mulai dari Rp350 ribu per orang untuk wisatawan lokal dan Rp500 ribu per orang untuk wisatawan mancanegara.

Katanya, harga tersebut sudah termasuk biaya perahu, tiket masuk makam, asuransi perjalanan, jasa pemandu serta donasi untuk pembangunan desa.

Dari tepi Danau Batur, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau bersepeda sekitar 15 menit sampai pintu masuk Desa Trunyan.

Meski jalanan setapak yang ditempuh cukup curam, namun keindahan Danau Batur dan Gunung Batur membayar segala kelelahan fisik yang terasa.

Selain pemandangan bak lukisan itu, beberapa warga yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan berkebun akan terlihat sepanjang perjalanan.

Sampai di desa, pemandu akan mengajak ke pelabuhan kecil untuk naik perahu menuju Sema Wayah.

Banyak warga lanjut usia di Desa Trunyan. Mereka yang tidak bekerja biasanya akan mengemis kepada wisatawan.

Bukan cuma di pelabuhan, mereka bahkan mendayung sampai perahu untuk mendekati perahu wisatawan demi mengemis.

Tradisi Gebug Ende Karangasem Warga Desa Seraya

Tradisi Gebug Ende Karangasem Warga Desa Seraya

Fkossmpkotabali.web.id – Tradisi Gebug Ende Karangasem, ialah tradisi turun temurun yang sekarang masih dilakukan. Gebug Ende dapat Anda saksikan di Pulau Bali. Gebug Ende merupakan tradisi atau upacara adat untuk memanggil hujan.

Apabila anda sedang mengunjungi kawasan Bali yang satu ini yaitu di Karangasem tepatnya di Desa Seraya, maka di desa ini terdapat sebuah tradisi yang dikenal dengan Gebug Ende.

Tradisi Gebug Ende Karangasem atau dikenal juga Gebug Ende Seraya ini merupakan perang rotan. Sebuah warisan budaya leluhur yang bertahan sampai saat ini, dimana tradisi ini dilakoni untuk memohon turun hujan pada musim kemarau.

Gebug Ende biasanya digelar pada sasih kapat (kalender Hindu Bali) atau pada bulan Oktober – November.

Sejarah Tradisi Gebug Ende Karangasem

Sejarah dari Gebug Ende Seraya ini adalah, pada jaman kerajaan Karangasem, warga Desa Seraya ditugaskan sebagai prajurit untuk menyerang kerajaan Seleparang yang ada di pulau Lombok.

Karena pada jaman itu warga Seraya dikenal kuat dan tangguh serta memiliki ilmu kebal, maka mereka dijadikan garda depan untuk menyerang kerajaan Seleparang, sehingga kerajaan Seleparang dapat dikuasai kerajaan Karangasem.

Prajurit Desa Seraya yang semangat ksatrianya masih berkobar meskipun telah menang, akhirnya mereka bertarung dengan teman mereka sendiri dengan menggunakan alat perang Sportsbook seadanya. Seiring dengan kejadian tersebut munculah permainan Gebug Ende yang ada sampai sekarang.

Baca Juga : Mengenal Tradisi Mekotek Desa Munggu

Cara Menuju Lokasi Desa Seraya, Tempat Pelaksanaan Tradisi Gebug Ende Karangasem

Desa Seraya yang terletak sekitar 10 km dari pusat kota Amlapura, perjalanan dari Denpasar kurang lebih 2,5 jam menggunakan mobil, setelah melewati objek wisata Taman Ujung Karangasem. Desa Seraya sendiri memang terletak di dataran tinggi, dimana kondisi geografisnya tanahnya cenderung tandus dan kering pada saat musim kemarau, sehingga kondisi seperti ini kurang menguntungkan bagi para petani juga.

Ritual Gebug Ende ini diawali dengan persembahyangan dengan berbagai banten atau sesaji, yang kemudian akan dilanjutkan dengan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki. Kedua laki-laki tersebut akan saling serang dengan membawa sebatang rotan dengan panjang 1,5 hingga 2 meter yang akan digunakan untuk memukul lawan dan perisai rotan bundar untuk menangkis serangan dari lawan.

Nama Gebug Ende sendiri memiliki arti yaitu Gebug yang artinya menggebug atau memukul lawan, Ende yang berarti perisai atau tameng.

Aturan Main Tradisi Gebug Ende Karangasem

Para peserta yang hendak bertanding berpakaian adat Bali madya dilengkapi dengan udeng atau ikat kepala berwana merah sebagai lambang jiwa pemberani. Kemudian mereka hanya bertelanjang dada dan memakai sarung.

Selama proses Gebug Ende akan diiringi dengan suara gamelan sehingga menambah ketegangan dan memacu adrenalin agar terus bertarung. Pertarungan akan berlangsung selama 10 menit dengan dipimpin oleh wasit yang disebut Saye.

Ritual akan menjadi lebih baik apabila saat pertandingan ada yang terluka hingga berdarah, karena dengan hal tersebut diharapkan hujan akan cepat turun. Maka dari itu para peserta Gebug Ende ini adalah harus yang sudah ahli.

Anda dapat berkunjung di Desa Seraya, Karangasem Bali tepat saat-saat musim kemarau. Mungkin saja anda beruntug dan dapat menyaksikan Gebug Ende Seraya ini.

Mengenal Tradisi Mekotek Desa Munggu

Mengenal Tradisi Mekotek Desa Munggu

Fkossmpkotabali.web.id – Salah satu tradisi di Bali yang masih dijaga hingga saat ini adalah Tradisi Mekotek Desa Munggu. Tradisi Mekotek ini juga dikenal dengan Gerebeg Mekotek. Untuk dapat menyaksikan tradisi Mekotek ini anda harus datang ke Desa Munggu.

Tradisi ini rutin diadakan setiap 6 bulan sekali atau 210 hari sekali sesuai dengan kalender Hindu, lebih tepatnya 10 hari setelah Hari Raya Kuningan. Tujuan adanya tradisi mekotek sendiri adalah sebagai prosesi tolak balak dan memohon keselamatan.

Asal Mula Tradisi Mekotek Desa Munggu

Pada awalnya tradisi Mekotek dilakukan sebagai bentuk penyambutan prajurit Kerajaan Mengwi yang datang dan membawa kemenangan setelah melawan raja Blambangan, dan akhirnya berkembang menjadi sebuah tradisi hingga sekarang.

Dahulu di tahun 1915, pada jaman penjajahan Belanda, Tradisi Mekotek Desa Munggu sempat dihentikan. Dikarenakan Belana merasa khawatir jika akan ada pemberontakan. Namun, yang terjadi malah terdapat wabah penyakit, dan dengan adanya perundingan yang cukup alot, akhirnya Mekotek diijinkan kembali.

Tardisi Mekotek menggunakan sarana tongkat kayu yang kulitnya sudah dikupas dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Dulunya tradisi ini menggunakan tombak, namun untuk menghindari terjadinya peserta yang terluka, tombak diganti dengan kayu.

Tongkat-tongkat kayu dipadukan menjadi satu dengan ujung yang mengerucut hingga membentuk seperti piramid. Suara tongkat-tongkat kayu yang saling berbenturan inilah mengeluarkan bunyi “tek..tek” sehingga dikenal dengan nama Mekotek.

Baca Juga :Mengenal Tradisi Omed Omedan Dari Bali

Peserta Tradisi Mekotek Desa Munggu

Tradisi Mekotek ini diikuti oleh seluruh warga dari 15 banjar di Desa Mengwi, mulai dari anak-anak yang berusia 12 tahun hingga orang tua yang berumur 60 tahun ikut memeriahkan perayaan yang satu ini. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana peran budaya tradisional Bali ini yang sangat penting di kalangan masyarakat setempat.

Para warga yang ikut diwajibkan untuk menggunakan pakaian adat madya. Saat siang hari telah tiba, mereka berkumpul di Pura Dalem Munggu untuk melaksanakan persembahyangan bersama dengan memberikan ucapan terima kasih atas segala hasil perkebunan dan usaha yang dijalankan. Kemudian, mereka melakukan pawai menuju ke sumber air yang terdapat di kampung ini.

Para warga dibagi menjadi beberapa kelompok dan disetiapa kelompoknya terdiri dari sekitar 50 orang. Setiap kelompok tersebut akan membawa tongkatnya masing-masing sambil diadu dan membentuk sebuah piramid. Para peserta yang memiliki keberanian dapat naik ke puncak piramid.

Lokasi Pelaksanaan Tradisi Mekotek Desa Munggu

Tradisi Mekotek yang hanya satu-satunya di Desa Mengwi meruppakan sebuah tradisi yang meriah dan unik. Desa Mengwi beradi di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Letaknya dekat dengan pusatb pariwisata Bali seperti Canggu, Seminyak, Kuta dan Legian. Banyak dari pelancong yang berada di kawasan ramai di Bali datang untuk melihat prosesi tradisi Mekotek yang hanya ada di Desa Munggu ini. Dan jangan lupa kamera Anda untuk mengabadikan tradisi unik ini.

Bagi anda yang memang sedang berlibur di Bali pada hari dimana Tradisi Mekotek Desa Munggu diadakan, tidak ada salahnya untuk menyambangi Desa Mengwi agar dapat melihat kebudayaan unik masyarkat Desa Mengwi ini. Sehingga dapat menambah keseruan dan pengalaman unik selama liburan.

Mengenal Tradisi Omed Omedan Dari Bali

Mengenal Tradisi Omed Omedan Dari Bali

Fkossmpkotabali.web.id – Omed-omedan, tradisi yang sangat unik yang digelar sehari setelah pelaksanaan catur brata penyepian, sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Tradisi ini digelar oleh anak muda Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar.

Meski dilakukan oleh pemuda dan pemudi setempat yang tampak berpelukan di tengah siraman air, tradisi ini tidak semerta-merta dijadikan ajang ciuman massal. Bahkan teknisnya, omed omedan diawali sebuah upacara dan pakem-pakem dalam pelaksanaannya.

Panglingsri Puri Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, yang juga disebut maestro tradisi omed-omedan, I Gusti Ngurah Oka Putra, mengatakan tradisi di desanya itu bagi masyarakat awam memang seperti ciuman dan pelukan massal. Namun, ia meluruskan persepsi itu semua karena dalam kenyataannya tidak seperti yang dilihat pada media sosial.

“Namanya juga omed-omedan berarti saling tarik-menarik. Di sana memang adanya sebuah pertemuan antara pipi pelaku dan tidak ada sama sekali yang bibir ketemu bibir karena semua itu sudah ada pakemnya,” ucapnya kepada Bali Express

Sesuai pakem yang ada, peserta omed-omedan dilakukan oleh anggota pemuda dan pemudi. Sedangkan tangan pemuda harus berada di lengan dan pinggul pemudi, sehingga pipi sama pipi dikatakan akan bertemu, sedangkan bertemunya bibir tidak akan terjadi.

Pada saat itu, ia juga menjelaskan anggota Sekaa Truna Truni (STT) dibagi menjadi beberapa kelompok tanpa ada batasan untuk mengangkat salah satu pemuda dan pemudinya yang akan melakukan tarik-menarik sambil disiram air.

Omed omedan itu memang dilaksanakan untuk memperingati pergantian tahun baru caka yang diperkirakan sudah mulai dari abad ke-18 Masehi.

“Ini sama kayak kita bersilahturahmi, namun dilakukan dengan bersenang-senang dan penuh kegembiraan. Sejarahnya juga sangat panjang, sehingga sampai saat ini masih tetap dilakukan setiap tahun. Kami juga tidak menyangka akan menjadi tradisi yang unik bahkan dikenal sampai ke luar negeri,” terang Ngurah Bima, panggilan akrabnya.

Baca Juga : Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

Tradisi Omed-omedan Sempat Ditiadakan

Dalam kesempatan itu pun Ngurah Bima menjelaskan sejarah singkat adanya tradisi omed-omedan tersebut yang sempat ditiadakan. Ia menerangkan panglingsirnya sendiri yang ada di puri setempat, tepat purinya yang berada di depan balai banjar mengalami sakit keras dan tidak diketahui apa penyebabnya.

Karena tidak ingin ada keramaian saat itu, maka disarankan jangan melakukan tradisi tersebut dalam memperingati tahun baru caka. Meski demikian, karena datangnya masyarakat dan penonton yang membeludak, maka tetaplah dilakukan oleh warga dan menentang perintah dari panglingsir puri saat itu.

“Karena raja tetap mendengar keramaian, mintalah ia keluar dari puri dengan digotong oleh pendampingnya, yang akan memarahi masyarakat karena tetap membuat keramaian di bencingah (depan puri). Sampainya di depan puri seketikalah panglingsir saya menjadi sembuh kembali secara misterius, maka ia tidak jadi marah-malah malah menyuruh melanjutkan kembali tradisi itu,” terang pria 74 tahun tersebut.

Diwawancarai pada tempat yang sama, ketua Sekaa Teruna Dharma Kerti, I Made Widya Sura Putra, mengatakan tradisi omed-omedan memang turun-temurun dilakukan oleh kalangan muda. Bahkan, ia mejelaskan sebelum tradisi berlangsung, diadakan sembahyang bersama terlebih dahulu dan ada arahan dari tokoh masyarakat setempat.

“Tradisi ini tidak semata sebagai ajang pelukan atau ciuman massal seperti informasi yang ada. Karena omed-omedan itu kan berarti saling tarik-menarik, bahkan itu ada pakemnya yang jelas. Mereka yang melakukan juga anggota STT yang diangkat oleh temannya secara spontanitas tanpa mengurangi tradisi, adat, budaya, dan pakem yang ada,” jelas pemuda 23 tahun tersebut.

Dalam pelaksanaannya juga, Putra mengungkapkan tradisi itu hanya boleh dilakukan oleh anggotanya yang baru masuk STT sampai yang belum kawin. Sedangkan, bagi yang mengalami kecuntakan (kotor/datang bulan) tidak diperkenankan ikut melakukan tradisi tersebut, karena prosesi awalnya dilakukan pada pura banjar setempat.

“Kita mulai dari pukul 16.00 sampai selesai, sedangkan yang melakukan omed-omedan maksimal itu dilakukan oleh dua pasang saja dari 350 anggota STT, dengan durasi tidak menentu,” imbuh mahasiswa Jurusan Manajemen Pascasarjana Undiknas tersebut.

Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

Keunikan Tradisi Perang Pandan Mekare kare di Desa Tenganan

Fkossmpkotabali.web.id – Banyak tradisi unik dan menarik yang bisa disaksikan selama berada di Pulau Dewata Bali. Tradisi Perang Pandan Mekare-kare merupakan salah satunya. Tradisi ini merupakan sebuah budaya leluhur yang berusaha dijaga secara turun temurun oleh masyarakat Bali yang tinggal di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. .

Mekare-kare atau yang biasa disebut Mageret Pandan juga dikenal dengan istilah Perang Pandan Mekare kare adalah tradisi yang berlaku sejak turun temurun di Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Jika Anda sedang berkunjung ke Desa Adat Tenganan Pegringsingan dan menyaksikan Mekare-kare tersebut sedang dilangsungkan, maka akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga dan tak terlupakan bagi Anda.

Tradisi Perang Pandan Mekare-kare Bagian dari Upacara Keagamaan

Tradisi ini merupakan rangkaian upacara keagamaan yang dilakukan ketika upacara Sasih Sembah digelar. Upacara Sasih Judi Bola Sembah merupakan upacara terbesar yang diselenggarakan hanya sekali dalam setahun. Sedangkan Mekare-kare dihelat selama 2 hari mulai pukul 2 sore di halaman Balai Desa Tenganan.

Kaum pria menggunakan pakaian adat madya terdiri dari sarung, selendang, serta ikat kepala tanpa memakai baju atau hanya bertelanjang dada. Sedangkan para perempuan memakai pakaian khas Tenganan yang berupa kain tenun Pegringsingan.

Seperti namanya Perang Pandan, maka senjata yang digunakan adalah pandan berduri yang diikat. Pandan ini sebagai simbol sebuah gada yang dilengkapi dengan sebuah perisai yang terbuat dari rotan yang dipakai untuk tameng.

Baca Juga : Desa Mistis di Bali yang Terkenal dengan Pemakaman Uniknya

Perang Pandan Mekar-kare Diikuti oleh Pria dengan Tanpa Rasa Dendam

Perang Pandan Mekare-kare hanya boleh diikuti oleh kaum pria yang mulai menginjak usia dewasa. Sebelum acara puncaknya dimulai, seluruh peserta berkeliling desa untuk memohon keselamatan.

Saat perang berlangsung, peserta berdiri berhadap-hadapan satu lawan satu. Setiap peserta membawa seikat daun pandan di tangan kanan dan perisai pada tangan kiri serta seorang wasit berada ditengah-tengah kedua peserta.

Ketika aba-aba dimulai, kedua peserta dengan serta merta saling serang dengan saling merangkul sambil memukulkan pandan di punggung lawan. Sambil dipukulkan, pandan tersebut juga digosokkan/digeretkan oleh karenanya disebut Upacara Mageret Pandan.

Tak terbayang bagaimana perihnya duri-duri pandan itu menancap dan melukai punggung-punggung peserta. Namun di sinilah letak adu nyali setiap peserta diuji. Mekare-kare ini hanya berlangsung selama satu menit diiringi dengan musik gamelan yang memacu semangat.

Semua peserta bergantian berperang dan prosesi ini berlangsung sekitar 3 jam. Selesai prosesi, luka di punggung peserta diobati dengan obat-obatan tradisional.

Setelah selesai perang, tak ada dendam sekalipun dalam hati tiap peserta karena Mekare-kare adalah tradisi untuk upacara persembahan yang harus dilakukan dengan tulus ikhlas.

Warga Desa Tenganan adalah penganut agama Hindu seperti kebanyakan masyarakat Bali pada umumnya. Namun yang menjadi dewa tertinggi mereka adalah Dewa Indra berbeda dengan warga lainnya yakni dewa Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Siwa sebagai dewa tertinggi.

Oleh karena itu, Perang Pandan Mekare-kare ini dihelat sebagai penghormatan kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang selain untuk menghormati para leluhur. Biasanya digelar pada bulan Juni bertepatan dengan upacara Ngusaba Kapat

Desa Mistis di Bali yang Terkenal dengan Pemakaman Uniknya

Desa Mistis di Bali yang Terkenal dengan Pemakaman Uniknya

Fkossmpkotabali.web.id – Pulau Dewata memang surga untuk liburan. Bukan hanya garis pantai yang indah, di sana pula terdapat beragam tempat wisata Bali yang keren dan sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah Desa Trunyan, sebuah kawasan yang hingga kini mampu menarik perhatian wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Lalu apa sih keunikannya?

1. Trunyan merupakan salah satu desa yang berada di daerah Kintamani. Destinasi satu ini terkenal akan tradisi pemakaman yang unik.

2. Biasanya pemakaman selalu identik dengan peti atau kain kafan, tapi tidak begitu di Trunyan. Mayat hanya diletakkan begitu saja di atas tanah.

3. Bukan sembarang tanah, warga Trunyan meletakkan mayat di bawah sebuah pohon yang sudah bertahun-tahun tumbuh di sana.

4. Kerabat dari orang-orang mati cukup menyiapkan bambu sebagai pagar di samping makamnya. Nampak sederhana tidak seperti pemakaman di tempat lain.

5. Selain dipagari dengan bambu ukuran satu meteran, juga ada sesaji yang di letakkan persis di dekat area makam.

Baca Juga : Beberapa Tempat Hiburan Malam Paling Ramai di Bali

6. Kendati dibiarkan terbuka tanpa tertimbun tanah, mayat yang ada di makam Trunyan ini tidak menimbulkan bau busuk. Malah bau harum yang tercium.

7. Usut punya usut, bau harum tersebut berasal dari pohon besar bernama Taru Menyan yang berada di tengah makam. Warga sekitar pun percaya jika akar dari pohon ini yang menyerap bau busuk dari mayat.

8. Beberapa mayat yang sudah menjadi tulang belulang dikumpulkan menjadi satu. Hal ini agar mayat yang baru dapat diletakkan di sebelah pohon Taru Menyan.

9. Tidak semua orang mati bisa diletakkan di makam ini. Tentu saja ada persyaratannya, mulai dari status hingga kematian yang wajar atau tidak.

10. Trunyan juga memiliki hal lain yang tak kalah menarik. Yaitu Barong Brutuk, sebuah gerakan tari dengan mengenakan kostum seram seperti di bawah ini. Pernah melihat di tempat lain?

Hawa mistisnya memang kental. Karena itu pula banyak sekali wisatawan yang belum percaya jika tidak melihat secara langsung. Nah, bagaimana dengan kamu, tertarik untuk berkunjung ke Desa Trunyan.