Wisata Rumah Pohon Di Desa Temega Karangasem

Wisata Rumah Pohon Di Desa Temega Karangasem

Fkossmpkotabali.web.id – Seperti namanya, tempat wisata yang baru didirikan ini dua tahun lalu terletak di desa Temega, Karangasem, Bali. Tempat yang berada di tengah hamparan sawah dan pepohonan besar membuat tempat wisata ini sangat segar dan cocok untuk menghabiskan waktu luang.

Lokasinya pun sangat strategis karena dekat dengann pusat kota, sehingga para pengunjung akan dengan mundah menemukannya. Pengelola rumah pohon Temega, I Nengah Satya Wira Saputra, menuturkan seluruh tanaman yang ada disini memang tanaman asli Temega, dirinya hanya menata agar lebih menarik. Sehingga tak heran semua yang ada di rumah pohon Temega ini terlihat begitu alami dan menyatu dengan hamparan pepohonan di sekitarnya.

Selain ditata dengan baik, pemandangan Temega ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas oleh pengelolanya sehingga sangat nyaman dijadikan tempat berlibur baik bersama keluarga ataupun teman. Pengunjung yang datang ke tempat ini pun sekarang tak hanya masyarakat lokal tapi juga dari mancanegara.

Hal ini dipengaruhi juga oleh berkembangnya teknologi sehingga informasi mengenai tempat ini mudah diakses oleh orang-orang di negara manapun. Ide pembuatan rumah pohon ini sendiri berawal dari adanya lahan kebun buah keluarga milik Nengah yang berada di desa Temega. Sehingga muncul niat untuk menatanya menjadi tempat wisata rumah pohon, karena banyaknya pohon besar dan rindang di lokasi ini.

Dan siapa sangka kini tempat wisata ini sukses menarik perhatian para pengunjungnya. Tempat ini juga membuat decak kagum bagi pengunjung yang baru pertama datang kemari, mereka yang datang karena tertarik melihat foto-foto penngunjung sebelumnnya di media sosial nyatanya tidak kecewa dengan tempat ini, karena keindahan tempatnya memang sesuai dengan apa yang ada.

Baca juga : Ke Perbukitan Labuan Bajo Lebih Nyaman Pakai Sepatu Ini

“Tempat ini sebenarnya cocok untuk dikunjungi dengan keluarga, melihat tempatnya yang luas dan banyak spot bermain sehingga rasanya anak-anak pun akan senang berada disini. Tapi berkunjung bersama pasangan atau teman juga masih bisa karena banyak spot foto menarik juga,” tutur I Wayan Eka Muliawan yang diwawancarai usai mengunjungi rumah pohon Temega.

Eka pun mengakui tempat ini memiliki berbagai spot menarik sehingga tidak membosankan untuk dijelajahi. Lebih lanjut Eka mengatakan spot favoritnya adalah pada rumah pohon tertinggi yang ada di tempat wisata ini, hal ini dikarenakan dari ketinggian memang terlihat pemandangan desa Temega yang begitu indah.

Selaras dengan harapan pengunjung, pengelola rumah pohon Temega pun menyatakan bahwa akan selalu mengusahakan menata tempat ini tanpa merusak alam yang ada di desa Temega ini. Sehingga eksistensi tempat wisata ini pun juga akan stabil mengingat semua yang ada bersifat alami dan mengikuti keadaan alam sehingga pariwisata dan keasrian alam akan tetap berjalan beriringan tanpa saling mengganggu.

Ke Perbukitan Labuan Bajo Lebih Nyaman Pakai Sepatu Ini

Ke Perbukitan Labuan Bajo Lebih Nyaman Pakai Sepatu Ini

Fkossmpkotabali.web.id – Biasanya, pelancong menuju ke bukit untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari laut lepas, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Nah, Anda tentu ingin melakukan trekking dan berjalan di bukit Labuan Bajo secara gratis, bukan? Karena itu, memilih sepatu yang tepat adalah kunci untuk kenyamanan perjalanan Anda.

Agar tidak bingung, berikut beberapa rekomendasi alas kaki khusus haiking dan trekking yang super nyaman:

Terra-Float Univ 2.0
Sandal gunung berdesain trendi ini tampaknya cocok untuk digunakan di berbagai kegiatan outdoor, mulai dari naik gunung, jelajah alam, sampai santai di pantai. Alas kaki outdoor buatan Amerika Serikat ini tersedia dalam berbagai warna trendi yang cocok untuk pria dan wanita. Fiturnya pun lengkap dan mampu menjamin kenyamanan pengguna saat mendaki.
Materialnya berbahan sintetis yang dipadukan dengan polyester webbing, serta sol karet durabrasion. Bisa dibilang, sandal satu ini lumayan antiselip dan awet.

Blackkelly LRS 593
Buat yang menyukai tampilan sandal outdoor simpel, Blackkelly LRS 593 hadir sebagai pilihan terbaik. Merek sandal outdoor asli Bandung ini menjamin kenyaman penggunanya dengan menghadirkan insole sintetis, material webbing, detil near stitching, dan penutup berbahan velcro yang terkenal praktis dan cukup aman. Desainnya yang sederhana tetap terlihat trendi dan cocok dipadukan dengan pakaian bertema kasual. Harganya pun terjangkau, yakni sekitar Rp160.000.

Adidas Cypres Ultra Sandal II
Adidas menawarkan lini sandal outdoor yang lumayan bervariasi, salah staunya adalah Adidas Cypres Ultra Sandal II. Sandal ini cocok digunakan menjelajahi area basah karena materialnya sangat mudah kering sehingga tidak merepotkan penggunanya. Dengan desain double strap dan open toe, kaki tak mudah berkeringat saat diajak menaiki perbukitan. Agar tidak mudah tergelincir, Adidas Cypres Ultra Sandal II dilengkapi dengan EVA insole dan rubber outsole yang tangguh di segala medan.

Baca juga : Stan Gratis PKB Namun Sangat Sempit

Asics GEL-Sonoma 3
Biasanya sepatu gunung tampil dengan model gahar dan warna netral. Lain halnya dengan Asics yang konsisten mengusung model ala sneakers agar terlihat lebih trendi. Asics GEL-Sonoma 3 merupakan sepatu khusus low trekking yang terasa ringan dan tidak membuat kaki mudah lelah berkat fitur Rearfoot GEL Functioning Systemnya. Dilengkapi dengan midsole EVA, sepatu satu ini tidak akan membuat Anda mudah tergelincir saat berlari ringan di medan trekking.

Eiger Mid Boot Shamrock
Sepatu outdoor berdesain maskulin ini dapat digunakan baik untuk haiking maupun kasual. Eiger Mid Boot Shamrock pun tidak rewel untuk diajak haiking di medan ringan hingga sedang. Bahan utama sepatu ini terbuat dari polyester yang dipadukan dengan material waterproof. Buat pemula, Eiger Mid Boot Shamrock bisa jadi pilihan paling trendi untuk digunakan haiking maupun trekking.

Stan Gratis PKB Namun Sangat Sempit

Stan Gratis PKB Namun Sangat Sempit

Fkossmpkotabali.web.id – Kebijakan Gubernur Bali I Wayan Koster tentang penghapusan sewa stand untuk industri kecil dan menengah (IKM) mendapat tanggapan positif dari peserta pameran di 41st Bali Arts Festival (PKB) di Taman Budaya, Denpasar. Terbukti, semakin banyak IKM berpartisipasi dalam pameran. Namun, sayangnya, pelaku IKM kecewa karena stand yang didapat cukup sempit karena terbatasnya ketersediaan tempat.

Pengerajin anyaman bambo dari Tigawasa, Buleleng yang ikut berpameran, Ketut Sugiarta mengaku kesulitan memajang hasil karyanya, karena sempitnya ruang stan yang didapatkan. Ia yang sudah beberapa kali ikut dalam kegiatan pameran PKB dalam beberapa tahun terakhir lebih menyukai sistem restribusi tetap diberlakukan, tetapi dengan diberikan subsidi

“Ya dikenakan restribusi, tapi disubsidi oleh pemerintah, kalau gratis begini membeludak pengrajin datang kesini, ya otomatis dapat stan seadanya, untuk pemajangan barang terbatas, pengunjung juga mengeluh, karena terlalu banyak pengerajin tetapi ruang gerak untuk melihat tidak puas,” kata Sugiarta

Sugiarta menyampaikan pada PKB tahun lalu ukuran stan yang didapatkan berukuran 2 meter kali dua setengah meter, tetapi sekarang harus dibagi dua sehingga sangat sempit. Bagi Sugiarta akan lebih nyaman ukuran stand tetap tetapi diberikan subsidi restribusi stand hingga 50 persen. Dimana tahun lalu harga stan di luar ruangan sekitar Rp. 5 juta dan stan di dalam ruang dikenakan sekitar Rp. 6 juta.

“Kalau bisa dari harga restribusi lama tahun-tahun sebelumnya, diberikan subsidi 50% atau berapa, sehingga tidak rebutan seperti sekarang, jadinya yang lulus seleksi dengan baik melalui dinas perdagangan akhirnya pengerajin lain karena mendengar ini gratis, kepingin juga ikut kesini, sekarang pembekakan stan hampir 100 lebih,” ujar Sugiarta.

Menurut Sugiarta, banyaknya jumlah stan juga menyebabkan omset para peserta pameran menurun, berbeda dengan tahun sebelumnya para peserta stan mampu meraup keuntungan yang optimal. Dimana akibat stan yang sempit menyebabkan pembeli tidak nyaman dan lebih memilih pergi ketika melihat pembeli lain datang.

“Ruang geraknya itu mungkin, karena berdesakan, belum acc datang lagi pengunjung yang lain, akhirnya yang mau beli jadi kabur. Kalau tahun lalu lima hari berjalan lumayan, kalau saya di anyaman bambu ini masuk di kisaran Rp. 10 juta, kalau sekarang 5 hari berjalan baru angka Rp. 4 juta dan masih merangkak dua hari ini sudah pusing,” ungkap Sugiarta.

Menurunnya omset juga diakui oleh Perajin Keben Sekar Madu Bangli, Nyoman Suryanti. Dengan sistem gratis memang pengerajin bisa memberikan harga produksi kepada pengunjung sehingga harga kerajinan yang diberikan tidak terlalu mahal. Ia mengakui jika penggratisan stan merupakan kebijakan yang bagus, namun sayang belum selaras dengan pendapatan.

“Bagus sih sekarang, dulu sih enam juta saya bayar. Sekarang sama sekali tidak, tapi persaingan tambah banyak. Dulu agak ramai pengunjungnya, sekarang pengunjungnya berkurang” ungkap Suryanti

Sedangkan seorang pelukis asal Gianyar, Ida Bagus Yudistira berharap kebijakan penggratisan juga memperhatikan estetika dan kebutuhan stan bagi para pengerajin. Ia yang mendapatkan stan berukuran 1 meter kali dua setengah meter mengalami kesulitan dalam memajang lukisan, belum lagi untuk menikmati atau melihat lukisan perlu ruang dengan jarang pandang yang cukup.

“Pertama, tengoklah tiap-tiap pengerajin, kalau memang gratis tetapi harus memperhatikan estetika dan kebutuhan, mana yang memerlukan tempat yang agak kecil, mana yang memerlukan agak besar. Agar sesuai dengan kebutuhan,” papar Yudistira.

Seorang pengunjung asal Sesetan, Dayu Putri sangat menyayangkan ukuran stand yang sempit, hingga membuat tidak nyaman untuk menikmati sebuah karya seni. Ia berharap panitia memperhatikan ukuran dalam penataan stan, sehingga baik peserta pameran dan pengunjung merasa nyaman.

“Kan agak sesak, saya lihat ini, memang untuk begini, kalau untuk melihat perlu ruang yang lebih luas sehingga kita bisa menikmati hasil karya seni, walaupun belum tentu beli. Kalau bisa lebih luas jadi lebih leluasa. Mudah-mudahan bisa lebih diperhatikan” uangkap Dayu Putri.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Bali Anak Agung Komang Sapta Negara mengaku sempat kaget dengan ukuran stand yang cukup sempit. Namun menurutnya panitia akan melakukan evaluasi terhadap permasalahan yang muncul.

Baca juga : Sistem PPDB 2019 Baik Namun Masih harus Dikoreksi

“Kita akan evalusi apalagi baru kali ini gratis. Karena sudah kebijakan pak gubernur gratis, ya gratis tidak ada bayar-bayaran lagi, karena ini harus berpihak pada rakyat , Cuma selama ini terbelenggu dengan jumlah stand yang ada di pergub, anggarannya juga sudah dianggarkan setahun sebelumnya,” jelas Agung Sapta.

Guna mengatasi membeludaknya peserta pameran maka kedepan jumlah stan akan disesuaikan dengan jumlah peserta dengan tetap memperhatikan kemampuan optimal dan kondisi ideal yang dibutuhkan. Caranya yaitu dengan memanfaatkan ruang-ruang yang masih kosong di area Taman Budaya Denpasar.

“Optimal tersebut bagaimana seluruh peserta tertampung, idealnya berapa sih luasannya , ini yang akan kita evalusi sehingga ruang-ruang yang ada kita manfaatkan semuanya, tentuanya biaya akan bertambah untuk pembuatan stan,” kata Agung Sapta.

Sebelumnya keputusan penggratisan biaya stan bertujuan untuk membantu meringankan beban biaya para pelaku industri kecil-menengah dari seluruh Kabupaten/Kota se-Bali. Harapannya dapat memotivasi dan menggerak-kan industri kreatif berbasis budaya Bali, yang bermutu dan berdaya saing, serta berorientasi ekspor.

Sistem PPDB 2019 Baik Namun Masi harus Di Korekasi

Sistem PPDB 2019 Baik Namun Masih harus Dikoreksi

Fkossmpkotabali.web.idPengamat pendidikan di Bali, MS. Candra, ketika dia bertemu. mengatakan bahwa sistem PPDB 2019 cukup bagus dalam upaya mendistribusikan pendidikan, tetapi ada beberapa kelemahan yang perlu dievaluasi.

Candra mengatakan harus ada tahap penyesuaian mengingat setiap daerah di Bali memiliki kondisi daerah yang berbeda.

“Zonasi ini membuat sekolah negeri akan sulit menentukan siswa yang diterima, karena ada sekolah negeri berdekatan. Zonasi ini harus diatur lebih rinci, kalau misalnya pemerintah menentukan radius 2 kilometer, ternyata minim siswa. Memang zonasi di perkotaan agak sulit,” terangnya.

Sistem Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 diakui banyak dikeluhkan masyarakat. Dengan sistem penerimaan siswa di sekolah negeri lewat jalur zonasi hingga 90 persen, masyarakat khawatir anaknya tak diterima di sekolah negeri, mengingat setiap Rombongan Belajar (Rombel) SMA dibatasi hanya 36 orang. Keluhan itu paling terasa di Denpasar. Hal itu disebabkan penentuan zona yang masih rancu, karena adanya beberapa SMA Negeri yang lokasinya berdekatan. Sebut saja, SMAN 1 Denpasar, SMAN 7 Denpasar dan SMAN 3 Denpasar.

Terkait sistem zonasi PPDB ini, Kasi Pemberdayaan dan Pemanfaatan Teknologi Pendidikan, Dinas Pendidikan Bali, AA Gde Rai Sujaya, mengatakan, pihaknya tak memungkiri terjadi penumpukan sekolah negeri pada satu wilayah di Denpasar. Akibat kondisi itu, pihaknya belum bisa melakukan pemetaan terhadap sekolah mana yang akan dipilih dan tempat tinggal siswa yang memilih sekolah tersebut. Sebagai upaya antisipasi, Disdik Bali memberikan kesempatan bagi pelamar sekolah negeri untuk memilih dua sekolah yang diinginkan, dan satu alternatif piihan sekolah swasta.

“Pilihan pertama adalah sekolah yang terdekat dengan tempat tinggal siswa, yang kedua tentu sekolah yang lebih jauh lagi. Disdik juga akan mendistribusikan siswa yang belum tertampung pada sekolah negeri yang memungkinkan, tapi itu kembali kepada si anak,” terangnya.

Baca juga : Rumah Kontrakan Terbakar Kerugian 100an Juta

Rai Sujaya menjelaskan, untuk mengantisipasi kisruh, pihaknya berupaya transparan dalam prosesnya PPDB yang bisa diketahui secara daring atau online, misalnya informasi terkait jarak, verifikasi dan validasi. Ia menekankan, pihaknya sejak awal sudah menjelaskan bahwa sekolah negeri tidak mampu menampung seluruh calon siswa lulusan SMP. Bagi yang tidak diterima di sekolah negeri, diarahkan ke sekolah swasta.

Ia mengatakan, jalur zonasi merupakan upaya pemetaan untuk pemerataan akses dan mutu pendidikan, sesuai imbauan Presiden RI untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Kata dia, pemerataan pendidikan ini juga menjadi tantangan baru bagi guru, dimana kemampuan guru dituntut harus mampu menentukan metode ajar mengingat akan ada beragam potensi siswa dalam satu kelas.

“Kami berupaya transparan, tidak ada rekayasa agar masyarakat nyaman mengikuti sistem zonasi. Ini upaya pemerataan, jadi selanjutnya dapat diketahui daerah mana yang kekurangan sekolah, sehingga akan dibangun sekolah,” terangnya seraya berharap upaya pemerintah ini dapat didukung masyarakat demi terwujudnya situasi PPDB yang kondusif.

Rumah Kontrakan Terbakar Kerugian 100an Juta

Rumah Kontrakan Terbakar Kerugian 100an Juta

Fkossmpkotabali.web.idRumah milik seorang pria Bali bernama Dewa Made Wijana (46) terbakar, sementara pemiliknya bernegosiasi di pasar. Tidak ada kematian dalam insiden kebakaran ini. Hanya pemiliknya yang menderita kerugian puluhan juta dan dua mobil.

Keterangan saksi Dewa Yoga (14 tahun), beralamat sama, saat melintas di depan rumah korban di jalan Anjani lingkungan Karang Lelede, pihaknya melihat ada kepulan asap. Asap disertai api pada bagian belakang mobil Artop dekat gudang penyimpanan barang dagangan. Yakni berupa snack makanan rin, galon air, soft drink, tabung LPG 3 kg milik korban.

“Saya langsung cari yang punya rumah karena dia lagi berjualan di pasar Karangjasi,” tutur Dewa Yoga.

Mendapat informasi ada kebakaran, Dewa Wijana bergegas pulang, melihat gudangnya sudah dalam keadaan hangus. Dibantu warga, api dipadamkan dengan alat seadanya. Namun api terus membesar dan merambah bagian rumah. Tak berapa lama 5 unit mobil Pemadam kebakaran Kota Mataram, dibantu 1 unit water canon Sabhara Polda NTB melakukan pemadaman. Api baru bisa dipadamkan sekitar 1,5 jam kemudian.

“Api cepat membesar karena di dalam gudang terdapat banyak kardus, plastik, dan tabung LPG 3 kilo,” ujar Iptu Gusti Lanang Mahardika SH, Kanit Reskrim SPKT Polsek Cakranegara, di lokasi kebakaran.

Adapun barang yang terbakar 1 unit mobil L300 warna hitam dan 1 unit mobil. Hingga kini penyebab kebakaran masih dalam penyidikan. Rumah semi permanen yang terletak di Jalan Pulau Alor nomor 73 Denpasar adalah milik Made Suwita yang dikontrak Nuning Indah Kristanto (42) selama setahun sebesar Rp 37 juta. Data yang dihimpun di lapangan, sekitar pukul 09.00 Wita, Nuning sedang mandi dan mendengar suara letupan dari lantai 2. Ia pun menyuruh pembantunya Marlin (40) naik ke lantai dua untuk mengecek.

Setelah dicek, sang pembantu langsung berteriak ada kebakaran di lantai 2. Karuan saja, Nuning keluar rumah bersama cucu dan anaknya. “Saksi pembantu melihat ada asap di kamar. Kasur dan lemari sudah terbakar,” ujar sumber di lapangan.

Baca juga : Bali Rayakan Hari Bung Karno

Sementara itu, dalam keterangan menantu korban yakni Gede Bento (25), saksi mengaku sekitar pukul 09.00 Wita sembahyang di lantai 2, dan selesai sembahyang mematikan dupa.

Selanjutnya, saksi turun ke bawah. Tiba-tiba saksi yang berada di lantai bawah mendengar suara letupan dilantai 2. “Setelah dicek terjadi kebakaran dan api sudah besar sehingga saksi tidak bisa menyelamatkan barang-barang miliknya dilantai 2,” ujar sumber.

Sedikitnya 5 unit armada Pemadam Kebakaran BPBD Kota Denpasar menjinakkan si jago merah yang akhirnya padam sekitar pukul 10.15 Wita. Dalam kejadian itu kobaran api menghanguskan 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi di lantai 2.

Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. “Tidak ada korban jiwa dan korban luka dalam kejadian kebakaran tersebut. Penyebab kebakaran masih diselidiki,” ungkap Kasubag Humas Polresta Denpasar Iptu Wayan Karnada.