Stan Gratis PKB Namun Sangat Sempit

Stan Gratis PKB Namun Sangat Sempit

Fkossmpkotabali.web.id – Kebijakan Gubernur Bali I Wayan Koster tentang penghapusan sewa stand untuk industri kecil dan menengah (IKM) mendapat tanggapan positif dari peserta pameran di 41st Bali Arts Festival (PKB) di Taman Budaya, Denpasar. Terbukti, semakin banyak IKM berpartisipasi dalam pameran. Namun, sayangnya, pelaku IKM kecewa karena stand yang didapat cukup sempit karena terbatasnya ketersediaan tempat.

Pengerajin anyaman bambo dari Tigawasa, Buleleng yang ikut berpameran, Ketut Sugiarta mengaku kesulitan memajang hasil karyanya, karena sempitnya ruang stan yang didapatkan. Ia yang sudah beberapa kali ikut dalam kegiatan pameran PKB dalam beberapa tahun terakhir lebih menyukai sistem restribusi tetap diberlakukan, tetapi dengan diberikan subsidi

“Ya dikenakan restribusi, tapi disubsidi oleh pemerintah, kalau gratis begini membeludak pengrajin datang kesini, ya otomatis dapat stan seadanya, untuk pemajangan barang terbatas, pengunjung juga mengeluh, karena terlalu banyak pengerajin tetapi ruang gerak untuk melihat tidak puas,” kata Sugiarta

Sugiarta menyampaikan pada PKB tahun lalu ukuran stan yang didapatkan berukuran 2 meter kali dua setengah meter, tetapi sekarang harus dibagi dua sehingga sangat sempit. Bagi Sugiarta akan lebih nyaman ukuran stand tetap tetapi diberikan subsidi restribusi stand hingga 50 persen. Dimana tahun lalu harga stan di luar ruangan sekitar Rp. 5 juta dan stan di dalam ruang dikenakan sekitar Rp. 6 juta.

“Kalau bisa dari harga restribusi lama tahun-tahun sebelumnya, diberikan subsidi 50% atau berapa, sehingga tidak rebutan seperti sekarang, jadinya yang lulus seleksi dengan baik melalui dinas perdagangan akhirnya pengerajin lain karena mendengar ini gratis, kepingin juga ikut kesini, sekarang pembekakan stan hampir 100 lebih,” ujar Sugiarta.

Menurut Sugiarta, banyaknya jumlah stan juga menyebabkan omset para peserta pameran menurun, berbeda dengan tahun sebelumnya para peserta stan mampu meraup keuntungan yang optimal. Dimana akibat stan yang sempit menyebabkan pembeli tidak nyaman dan lebih memilih pergi ketika melihat pembeli lain datang.

“Ruang geraknya itu mungkin, karena berdesakan, belum acc datang lagi pengunjung yang lain, akhirnya yang mau beli jadi kabur. Kalau tahun lalu lima hari berjalan lumayan, kalau saya di anyaman bambu ini masuk di kisaran Rp. 10 juta, kalau sekarang 5 hari berjalan baru angka Rp. 4 juta dan masih merangkak dua hari ini sudah pusing,” ungkap Sugiarta.

Menurunnya omset juga diakui oleh Perajin Keben Sekar Madu Bangli, Nyoman Suryanti. Dengan sistem gratis memang pengerajin bisa memberikan harga produksi kepada pengunjung sehingga harga kerajinan yang diberikan tidak terlalu mahal. Ia mengakui jika penggratisan stan merupakan kebijakan yang bagus, namun sayang belum selaras dengan pendapatan.

“Bagus sih sekarang, dulu sih enam juta saya bayar. Sekarang sama sekali tidak, tapi persaingan tambah banyak. Dulu agak ramai pengunjungnya, sekarang pengunjungnya berkurang” ungkap Suryanti

Sedangkan seorang pelukis asal Gianyar, Ida Bagus Yudistira berharap kebijakan penggratisan juga memperhatikan estetika dan kebutuhan stan bagi para pengerajin. Ia yang mendapatkan stan berukuran 1 meter kali dua setengah meter mengalami kesulitan dalam memajang lukisan, belum lagi untuk menikmati atau melihat lukisan perlu ruang dengan jarang pandang yang cukup.

“Pertama, tengoklah tiap-tiap pengerajin, kalau memang gratis tetapi harus memperhatikan estetika dan kebutuhan, mana yang memerlukan tempat yang agak kecil, mana yang memerlukan agak besar. Agar sesuai dengan kebutuhan,” papar Yudistira.

Seorang pengunjung asal Sesetan, Dayu Putri sangat menyayangkan ukuran stand yang sempit, hingga membuat tidak nyaman untuk menikmati sebuah karya seni. Ia berharap panitia memperhatikan ukuran dalam penataan stan, sehingga baik peserta pameran dan pengunjung merasa nyaman.

“Kan agak sesak, saya lihat ini, memang untuk begini, kalau untuk melihat perlu ruang yang lebih luas sehingga kita bisa menikmati hasil karya seni, walaupun belum tentu beli. Kalau bisa lebih luas jadi lebih leluasa. Mudah-mudahan bisa lebih diperhatikan” uangkap Dayu Putri.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Bali Anak Agung Komang Sapta Negara mengaku sempat kaget dengan ukuran stand yang cukup sempit. Namun menurutnya panitia akan melakukan evaluasi terhadap permasalahan yang muncul.

Baca juga : Sistem PPDB 2019 Baik Namun Masih harus Dikoreksi

“Kita akan evalusi apalagi baru kali ini gratis. Karena sudah kebijakan pak gubernur gratis, ya gratis tidak ada bayar-bayaran lagi, karena ini harus berpihak pada rakyat , Cuma selama ini terbelenggu dengan jumlah stand yang ada di pergub, anggarannya juga sudah dianggarkan setahun sebelumnya,” jelas Agung Sapta.

Guna mengatasi membeludaknya peserta pameran maka kedepan jumlah stan akan disesuaikan dengan jumlah peserta dengan tetap memperhatikan kemampuan optimal dan kondisi ideal yang dibutuhkan. Caranya yaitu dengan memanfaatkan ruang-ruang yang masih kosong di area Taman Budaya Denpasar.

“Optimal tersebut bagaimana seluruh peserta tertampung, idealnya berapa sih luasannya , ini yang akan kita evalusi sehingga ruang-ruang yang ada kita manfaatkan semuanya, tentuanya biaya akan bertambah untuk pembuatan stan,” kata Agung Sapta.

Sebelumnya keputusan penggratisan biaya stan bertujuan untuk membantu meringankan beban biaya para pelaku industri kecil-menengah dari seluruh Kabupaten/Kota se-Bali. Harapannya dapat memotivasi dan menggerak-kan industri kreatif berbasis budaya Bali, yang bermutu dan berdaya saing, serta berorientasi ekspor.

Related posts